Senin, 26-09-2022 | Jam Digital
18:42 WIB - Menkumham : Terapkan Prinsip 4L : To Live, To Love, To Learn, To Leave Legacy | 18:08 WIB - Bansos Ojek Hingga Nelayan Jadi Prioritas di APBD-P Riau 2022 | 18:06 WIB - Facebook dan Instagram Langgar Hak Kebebasan Berekspresi Warga Palestina | 18:05 WIB - Dispora Riau akan Hitung Kerugian Kerusakan Stadion Utama | 18:03 WIB - Menkumham Yasonna Kunjungi Kanwil Kemenkumham Riau | 18:02 WIB - Gempa M 6,4 Guncang Aceh, Begini Penjelasan BMKG
www.mimbarkita.com
 
Kavaleri Udara
'Kuda' Perang Tangguh dan Benteng Serangan Terorisme
Jumat, 25-03-2016 - 12:11:01 WIB

Jakarta - Anda pernah menonton film We Were Soldiers yang di bintangi Mel Gibson dan di sutradarai Randall Wallace tahun 2002? Jika belum, bagi anda penikmat dunia militer dan juga film ada baiknya menonton film ini.

Mengapa ? Karena film ini diadaptasi dari kisah nyata yang juga dibukukan We Were Soldiers Once And Young karya Letnan Jenderal (Ret.) Hal Moore dan Joseph L. Galloway.

Kisah  dalam film dan buku tersebut menggambarkan salah satu peristiwa pertempuran terhebat dalam Perang Indochina antara antara Divisi Kavaleri Udara ke-1 Amerika Serikat berkekuatan +/- 400 prajurit dengan tentara Viet Minh Vietnam Utara yang berkuatan +/- 4000 personil di bukit La Drang.

Divisi Kavaleri Udara Angkatan Darat Amerika Serikat pertama kali digunakan sejak pecah perang Indochina. Unit tersebut pada awalnya dibekali sejumlah 'kuda' perang yang terdiri dari helikopter UH-1 troop carrier, UH-1-C gunship dan CH-47 Chinook sebagai pengangkut perbekalan dan CH-54 sky crane.

Kavaleri ini menjadi tulang punggung pasukan pemukul Angkatan Darat Amerika Serikat mengingat kondisi geografis Vietnam yang masih banyak tertutup hutan lebat dan daerah pegunungan sehingga gerak maju kendaraan lapis baja di darat menjadi sangat terbatas mobilitasnya.

Sepanjang kiprahnya di Perang Indochina, Kavaleri Udara sering dilibatkan dalam pertempuran berskala besar untuk menghadang gerak maju tentara Vietnam Utara. Perang itu antara lain Operasi Tet tanggal 31 Januari 1968, Operasi Pegasus pada Maret 1968 dan Operasi Delaware pada April 1968.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sebagai negara tropis yang memiliki kondisi geografis mirip seperti Vietnam, ide dan gagasan pembentukan divisi Kavaleri Udara di lingkungan TNI sangat penting untuk dikembangkan.

Hingga saat ini, unit Kavaleri Udara TNI berada di bawah koordinasi Penerbad. Selama beberapa dekade, unit-unit kavaleri udara banyak mengandalkan helicopter Bell 205 A-1 dan N-Bell 412 serta NBO-105. Perlahan, peran ketiga alutsista tersebut mulai mendapat penyegaran dengan masuknya varian helicopter Mil Mi-17-v-5 buatan Rusia yang

Penyegaran berikutnya adalah akan keberadaan NBO-105 yang akan segera digantikan oleh AS 550 FENNEC sebanyak 12 buah pada tahun 2016. Salah satu keberadaan alutsista yan membuat konsep kavaleri udara TNI mengalami perubahan yang cukup drastic adalah kehadiran Mi-35P Hind buatan rusia.

Dengan kehadiran helicopter ini, alutsista terbang Penerbad tidak hanya menyasar sasaran personil musuh yang ada di darat namun juga menyasar kendaraan lapis baja. Konsep pertahanan dan serbuan militer Penerbad juga akan mengalami perubahan yang cukup signifikan lagi menjelang kedatangan AH-64 Guardian buatan Boeing-Amerika Serikat.

Jika Mi-35P Hind Penerbad masih dapat difungsikan untuk mengangkut personil / IFV (Infantry Fighting Vehicle), maka AH-64 Guardian, kemungkinan, akan benar-benar difungsikan sebagai heli serang murni dengan target utama sasaran kendaraan lapis baja, angkut personil, instalasi musuh dan personil musuh dari jarak 12 km atau lebih.

Menurut hemat penulis, seiring dengan modernisasi alutsista untuk memenuhi Minimum Essential Force/MEF yang berpengaruh terhadap perubahan strategi dan metoda pertahanan, ada baiknya konsep pertahanan awal terbentuknya kavaleri udara tetap dipertahankan.

Konsep tersebut adalah mengandalkan mobilitas pasukan dalam jumlah besar dengan helikopter untuk menangkal gerakan-gerakan sipil bersenjata yang banyak bersembunyi di lebatnya pegunungan sejumlah daerah tanah air.

Sebut saja kelompok Santoso yang masih bersembunyi di Gunung Biru-Sulawesi,  juga kelompok sipil bersenjata di pedalaman Aceh serta pegunungan Papua adalah 'surga' persembunyian bagi kelompok-kelompok tersebut.

Sangat tidak efektif jika aparat keamanan yang biasa beroperasi di kota dengan menggunakan kendaraan darat berusaha menghancurkan sarang-sarang teroris yang mengandalkan taktik perang gerilya di hutan dan pedalaman.

Menurut hemat penulis, ada baiknya jika Densus 88 Polri dibekali dengan kemampuan kavaleri udara untuk melakukan penyergapan, penangkapan dan memantau pergerakan kelompok sipil bersenjata yang terus menebar teror pada masyarakat di pedalaman.***(Muhammad Sadan)




 
OPINI
Anggota DPRD KAMPAR, ANOTONA NAZARA, SE
Berjuang Dalam Keterbatasan
Pembangunan Indonesia Maju : Anatomi Kepemimpin Polri dan Atmosfir Kemajuan Bhayangkara
OPINI
PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA INDONESIA
Mengenal Anotona Nazara
28-05-2018 | 08:12 Wib
14 Tahun Tabloid BIDIK
Opini : Bidik vs SPS
Gampang Marah?
Parasit Bersarang dalam Otak Anda
Kavaleri Udara
'Kuda' Perang Tangguh dan Benteng Serangan Terorisme
 

Home | Daerah | Nasional | Hukum | Politik | Olahraga | Entertainment | Foto | Galeri | Advertorial | Suara buruh | Kepulauan Nias
Pekanbaru | Siak | Pelalawan | Inhu | Bengkalis | Inhil | Kuansing | Rohil | Rohul | Meranti | Dumai | Kampar
Opini | Redaksi | Index
Pedoman Berita Siber

Copyright © 2015-2016 mimbarkita.com
Suara Keadilan Untuk Kebenaran